6 Kedahsyatan Do’a yang Wajib Anda Tahu

Ads 1

Berikut ini 6 Kedahsyatan Do’a yang Wajib Anda Tahu.

Pertama

Doa merupakan bentuk ibadah dan dzikir kepada Allah Swt. Doa memiliki keutamaan dan pahala sebagaimana yang dimiliki dzikir dan ibadah. Sebagai dzikir dan ibadah, doa tentu lebih dari sekadar memohon atau meminta sesuatu, tetapi merupakan jalan untuk membuka komunikasi dengan Allah Swt., dan memelihara komunikasi itu. Inilah sesungguhnya makna sabda Nabi Muhammad saw., bahwa

”Doa adalah otaknya ibadah.”

Dikatakan otak ibadah, karena doa berfungsi sebagai titik awal bahkan titik sentral kesadaran keimanan dalam diri manusia. Jadi, nilai utama doa atau permohonan terletak pada terjadinya komunikasi pribadi yang intim dan intens antara manusia dan Allah Swt. Secara demikian, doa kepada Allah sesungguhnya merupakan bentuk lain sebuah penghambaan dan ketaatan yang dua kali lebih utama daripada sekadar tercapainya hal yang diinginkan.

Kedua

Doa merupakan sarana mendapatkan pertolongan Allah (inayatullah). Ketika berdoa, seseorang tidak saja memperoleh rasa aman dan sentosa, tetapi juga taufik dan inayah dari Allah Swt., yang memungkinkan ia meraih kesuksesan dalam hidup. Dari sini dapat ditegaskan, doa selain bentuk ibadah kepada Allah Swt., tetapi juga sebagai pintu terbukanya inayatullah untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia. Misalnya dalam sejarah kenabian terdapat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria yang tak henti-hentinya berdoa dan memohon, yang kemudian mereka dianugerahi seorang anak (QS. Maryam [19]: 48–49). Demikian juga dengan Nabi Adam dan Nabi Yunus yang tak bosan berdoa sampai akhirnya Allah mengampuni dosa keduanya.

Ketiga

Doa memberikan kesadaran tentang relativitas dan kelemahan manusia. Betapapun seseorang telah memaksimalkan kerja berpikirnya untuk menghasilkan persiapan dan perencanaan yang matang demi keberhasilan usahanya, namun tidak sedikit yang berujung dengan kegagalan. Di sinilah manusia memerlukan tempat bersandar bahwa sesungguhnya yang mampu membuahkan hasil hanyalah Allah semata. Karena itulah doa berfungsi untuk menunjukkan keagungan Allah Swt., kepada hamba-hamba-Nya yang lemah. Dengan doa seorang hamba menyadari bahwa hanya Allah yang memberinya nikmat, membuatnya sukses, menerima taubat, dan memperkenankan keinginan-keinginannya. Allah Swt., berfirman,

”…Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya (QS. An-Naml [27]: 62).

Keempat

Doa mengajarkan kepada manusia agar memiliki rasa malu kepada Allah Swt., sebab manakala manusia tahu bahwa Allah akan mengabulkan doa- doanya, maka tentu saja ia malu untuk mengingkari nikmat-nikmatnya. Bahkan tatkala manusia sudah berada dalam puncak keimanan yang kuat sekalipun, maka ia akan lebih dekat lagi (taqarrub) untuk mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini seperti dicontohkan oleh Nabi Sulaiman as., ketika berdoa,

”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi (QS. An-Naml [27]: 35).

Allah pun mengabulkannya. Nabi Sulaiman bertanya kepada semua makhluk siapa yang mampu memindah kan singgasana Balqis ke hadapannya. Seorang Sholihin (Auliya Allah) berkata: ”Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum tuan berkedip; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Ternyata benar, beliau membawa singgasana Balqis dari Saba (Yaman) ke Syiria tidak kurang dari kedipan mata. Menyaksikan nikmat yang ada di hadapannya itu, Nabi Sulaiman lantas berkata: ”Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatnya). Dan barang siapa yang bersyukur sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar, sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Kelima

Doa sebagai terapi. Utsman Najati (2005: 401) dalam bukunya Al-Hadist an-Nabawi wa ’Ilm an-Nafs (Psikologi Nabi) mengatakan, ”Dalam doa ada istirah (ketenangan) bagi jiwa, ada penyembuh dari rasa cemas, susah, dan gelisah. Karena, orang yang memanjatkan doa akan berharap agar Allah mengabulkan permintaannya. Harapan dikabulkannya doa oleh Allah dapat memperingan kesulitan seorang mukmin yang muncul dari kebingungannya, bisa menambah kekuatannya untuk memikul beban dan bersabar, serta dapat memper teguh ketenangan jiwa. Berdoa mempunyai kebaikan dan faedah bagi seorang mukmin dalam segala hal, baik di dunia maupun akhirat. Pengharapan seorang mukmin dalam doa yang disampaikannya kepada Allah akan meringankan kesulitan dan menenangkan jiwanya”.

Rasulullah saw., mengobati rasa resah dan sedih para sahabatnya dengan mengajarkan doa-doa tertentu. Dengan memanjatkan doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw., mereka merasa bisa terlepas dari himpitan hidup. Rasulullah saw., juga mengobati insomnia (susah tidur) dan rasa takut ketika akan tidur yang dialami para sahabatnya dengan cara memanjatkan doa. Melalui doa pula, Rasulullah saw., mengobati lupa yang dikeluhkan Ali. Ketika itu Ali mengeluhkan lupa hafal an Al-Qur’an-nya. Bahkan Rasululullah saw., mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mengobati perasaan berdosa adalah denganberdoa kepada Allah Swt.

Keenam

Doa merupakan senjata orang beriman. Di saat-saat sulit yang dialami Rasulullah saw., dan para sahabat, banyak peristiwa besar terjadi. Allah Swt., selalu menaungi kaum mukmin dengan rahmat-Nya dan pertolonganNya dalam menghadapi kejahatan kaum kafir Quraisy. Senjata yang digunakan Rasulullah saw., dan para sahabatnya saat itu selain pedang dan panah, adalah doa. Bahkan, doa terbukti sebagai senjata yang paling ampuh. Sebagaimana Rasulullah saw., bersabda,

”Maukah aku tunjukkan pada kalian sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh dan memudahkan turunnya rezeki bagi kalian? Berdoalah kalian pada Allah di waktu malam dan siang. Karena doa itu sesungguhnya senjata orang-orang beriman.” (HR. Abu Ya’la).

Itulah faedah dan kekuatan doa bagi orang-orang yang memanjatkannya. Mengingat dahsyatnya kekuatan doa tersebut, sudah selayaknya jika kita menjadikan doa sebagai kebutuhan pokok, itu pun kalau hidup kita ingin diliputi dengan keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan.[]

Sumber: Buku “Doa-Doa Khusus Wanita Agar Sukses, Sehat, Kaya, Bahagia Dunia, dan Akhirat” karangan Amirulloh Syarbini

Ads 2